Amarah dan Hinaan…??


kekerasan-pers

Assalammualaikum wr wb

Dear…sebelum tidur ngidam ngepost sesuatu,hehehe…

Aku jadi ingat kejadian tadi siang…saat seseorang mencaci maki, menghina dan berkata-kata kasar…. Mungkin begitu sakit hatinya seseorang tersebut hingga mengeluarkan kata-kata yang tidak sepantasnya…. Ini aku share cerita dari Andrie Wongso…simak ya…

Alkisah, ada seorang bernama Adiba. Setiap kali marah, ia akan pulang ke rumah untuk mengelilingi rumah dan tanah miliknya sebanyak tiga kali putaran. Seiringnya berjalannya waktu, rumah dan tanah Adiba semakin luas dan banyak. Namun kebiasaan lamanya ketika merasa marah tetap Adiba lakukan. Ia masih saja mengelilingi seluruh rumah dan tanah miliknya. Meski harus berkeringatan, Adiba tidak peduli.

Suatu hari, sang cucu bertanya kepada Adiba perihal kebiasaan si kakek yang dianggap agak aneh. “Ada apa sih, Kek, kok Kakek rela lari-lari begitu? Apa nggak capek, Kek?”

Adiba menjawab, “Kakek sudah jalanin kebiasaan ini sejak muda, Cu. Setiap kakek bertengkar dengan orang lain, berdebat, ataupun marah, kakek akan mengelilingi tanah dan rumah sendiri sebanyak tiga kali. Saat berlari, kakek berpikir dan bertanya pada diri sendiri, ’rumahku masih begitu kecil, tanah juga masih sedikit, bukankah aku seharusnya tak punya waktu untuk marah pada orang lain?’ Dengan memikirkan pertanyaan itu, rasa marah kakek jadi hilang. Jadi, kakek bisa punya waktu yang lebih banyak untuk bekerja dan belajar.”

”Oh, begitu. Terus, sekarang kan kakek sudah kaya, kok masih saja berlari-lari mengelilingi rumah?” lanjut si cucu. Dengan tersenyum, Adiba menjawab, “Karena kakek masih bisa mendapat manfaat yang sama. Selagi berlari, kakek sekarang berpikir, ’rumahku sudah begitu besar, tanah juga begitu banyak, mengapa mempersoalkan hal kecil itu dengan orang lain?’ Setelah itu, marah kakek akan hilang.”
***

Rasa marah sesungguhnya adalah perasaan yang wajar kita rasakan, tapi yang menjadikannya tidak wajar apabila amarah itu tetap terpendam di hati kita dan malah mempengaruhi suasana hati kita sepanjang hari dan akhirnya berimbas ke kinerja kita secara keseluruhan. Karena itu, sangat penting bagi kita untuk menemukan satu cara efektif yang mampu menghilangkan amarah ketika kita merasakannya.
Dan ini ada cerita berikutnya….simak ya..

 

Pada suatu hari yang cerah, seorang guru muda berjalan melintasi sebuah desa. Walaupun usianya baru menginjak dasawarsa ketiga, namun kepandaian dan kebijaksanaannya terkenal di seluruh penjuru negeri.

Tiba-tiba saja, langkahnya dihentikan oleh seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar, beraut wajah merah, tampak marah dan tidak senang.

“Hei,” katanya kasar. “Anda itu tidak berhak mengajari orang lain..!”

Kemudian pemuda ini mulai berteriak menantang dan menghina guru muda ini. “Tahu tidak? Anda ini sama saja bodohnya dengan orang lain. Punya kepandaian sedikit saja, sok tahu! Badan begitu kecil nyalimu cukup besar ya. Ayoo…kalau berani kita berkelahi!”

Dengan wajah tenang, sambil tersenyum, sang guru muda malahan balik bertanya: “Teman. Jika kamu memberi hadiah untuk seseorang, tapi seseorang itu tidak mengambilnya, siapakah pemilik hadiah itu?”

Si pemuda terkejut, karena tiba-tiba diberi pertanyaan yang aneh. Spontan, ia menjawab lantang, “Pertanyaan bodoh! Tentu saja! Hadiah itu tetap menjadi milikku karena akulah yang memberikan hadiah itu.”

Guru muda ini tersenyum, lalu berkata, “Kamu benar. Kamu baru saja memberikan marah dan hinaan kepada saya dan saya tidak menerimanya, apalagi merasa terhina sama sekali. Maka kemarahan dan hinaan itu pun kembali kepadamu. Benar kan? Dan kamu menjadi satu-satunya orang yang tidak bahagia. Bukan saya. Karena sesungguhnya, melampiaskan emosi kemarahan adalah sebuah proses menyakiti diri sendiri. Membangkitkan sel-sel negatif di dalam diri.”

Pemuda itu terdiam, mencoba mencerna kata demi kata sang guru. Kepala dan hatinya seperti tersiram air dingin, ketika mendapat sebuah kesadaran baru.

Sang guru muda melanjutkan. “Jika kamu ingin berhenti menyakiti diri sendiri, singkirkan kemarahan dan ubahlah menjadi cinta kasih. Ketika kamu membenci orang lain, dirimu sendiri tidak bahagia bahkan tersakiti secara alami. Tetapi ketika kamu mencintai orang lain, semua orang menjadi bahagia.”

Netter yang bijaksana,
thanks for being my friends sweetie
Saat kemarahan sedang menghampiri kita, tunda sejenak! Jangan biarkan dia lepas tanpa kendali. Mengumbar kemarahan adalah pantulan ketidakbahagiaan.

Karenanya, mari kita belajar mengembangkan kebahagiaan setiap saat. Dengan berbahagia, maka tidak akan muncul kemarahan dan kebencian. Tanpa kemarahan dan kebencian, tidak ada proses menyakiti diri sendiri dan sesama.

Dear…rasa marah, kebencian itu hanya akan merusak hati dan pikiran saja… Mencaci maki orang lain tidak akan melegakan dan meredakan amarah…yang ada dosa semakin banyak, hati gelisah…. tetapi, beda lagi bagi orang yang terbiasa mencaci maki untuk meredakan amarahnya…. mungkin sikap negatif seperti itu dapat mengurangi amarahnya dan menimbulkan kepuasan hatinya…tetapi, yakinlah, kepuasan itu hanya bersifat sementara…

Bagi seorang muslim yang beragama kita bisa meredakan amarah dengan berwudhu dan berdzikir kepada Allah SWT, tidaklah Allah menyukai hambanya yang suka berkata keji…

Wallahu’alam

Semoga bisa meredakan hati yang dilanda amarah ya dear…dengan hal-hal yg positif…indahnya berbagi🙂

 

Wassalam wr wb

3 thoughts on “Amarah dan Hinaan…??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s